Thursday, November 08, 2012

Tidak Ada Satupun Binatang Di Bumi Dan Burung Yang Terbang Dengan Dua Sayapnya


Seringkali kita dengar bahawa penganut Islam tidak dibolehkan memelihara anjing. Malah bukan sedikit tokoh agama dan ulamak yang menyebut hukum memelihara anjing adalah haram. Akibatnya, jangankan memelihara anjing, kewujudan anjing itu sendiri sudah dianggap haram. Seolah ia adalah haiwan yang memiliki kedudukan paling hina dari kalangan haiwan ciptaan Allah Subhanahu Wataala. Situasi ini membantutkan keinginan orang beragama Islam untuk memelihara anjing.

Keadaannya sama  dengan permasalahan lain, jika kita ingin mendalami suatu ajaran agama dengan benar, tentu akan diperolehi penjelasan dan pencerahan tentang jawaban mengenai suatu persoalan. Begitu juga dengan persoalan memelihara anjing.

Perlu diketahui bahawa umat Nabi Muhammad tidak hanya terbatas kepada manusia, namun seluruh semesta alam ini. Maksudnya, semua haiwan, tumbuhan dan benda-benda tak hidup juga termasuk dalam golongan umat Nabi Muhammad.

Firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 38 menyebutkan :

 “Tidak ada satupun binatang di bumi dan burung yang terbang dengan dua sayapnya, melainkan suatu umat seperti kamu juga.” Dalam suatu hadis, Nabi Muhammad pun pernah bersabda : “Andaikata anjing- anjing itu bukan umat seperti umat-umat yang lain, niscaya saya perintahkan untuk dibunuh.” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

Dari firman Allah dan hadis tersebut, jelas membuktikan adanya suatu pengakuan bahawa anjing pun merupakan umat Nabi Muhammad. Dalam beberapa riwayat, terdapat larangan memelihara anjing. Nabi Muhammad melarang umatnya memelihara anjing di dalam rumah tanpa ada suatu keperluan.

1. MEMELIHARA ANJING DI DALAM RUMAH. 

Tegahan ini sebenarnya lebih bertujuan untuk menghindari najis dari bejana yang terkena jilatan anjing. “Apabila anjing menjilat dalam bejana kamu, maka cucilah dia tujuh kali, salah satu di antaranya dengan tanah. ” (Riwayat Bukhari) Sementara itu, sebahagian ulamak menafsirkan jika anjing yang menyalak seringkali menakutkan orang. Oleh karena itu, kurang elok  jika dipelihara di dalam rumah karena akan mengganggu tamu yang datang.

2. MEMELIHARA ANJING TANPA ADA SUATU KEPERLUAN

“Barangsiapa memelihara anjing, selain anjing pemburu atau penjaga tanaman dan binatang, maka pahalanya akan berkurang setiap hari satu qirat.” (Riwayat Jamaah). Berdasar hadis tersebut, jelas tersirat maksud bahwa umat Islam diperbolehkan memelihara anjing jika memang ada suatu kepentingan dan keperluan. Ini berertii, tindakan memelihara anjing tidak boleh dikatakan haram karena jika sesuatu disebut haram maka maksudnya tidak boleh sama sekali diambil/dikerjakan baik pahalanya itu berkurang atau tidak. Dari penjelasan di atas, jelas bahawa persoalan halal haram dalam memelihara anjing bersifat kondisional. Oleh karena itu, terdapat ahli fiqh lebih merujuk hukum makruh memelihara anjing.  Dengan demikian, sebenarnya umat Islam dilarang bersikap keras terhadap kewujudan anjing.

Rasulullah juga pernah meriwayatkan  kepada para sahabat tentang seorang lelaki yang menjumpai anjing di padang pasir yang terus menggonggong sambil makan debu karena kehausan. Lantas laki-laki itu menuju ke sebuah sumur dan melepas sepatunya untuk diisi dengan air sumur tersebut. Kemudian, dengan penuh kasih sayang, ia memberikan air itu kepada anjing yang kehausan tersebut. Hingga akhirnya, minumlah anjing tersebut dengan puas. Dengan adanya tindakan yang dilakukan laki-laki itu, Nabi bersabda: “Karena itu (tindakan menolong anjing yang kepayahan), Allah berterimakasih kepada orang yang memberi pertolongan itu serta mengampuni dosanya.” (Riwayat Bukhari).